Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/sloki/user/h08960/sites/blog.fastechindo.com/www/wp-settings.php on line 472

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/sloki/user/h08960/sites/blog.fastechindo.com/www/wp-settings.php on line 487

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/sloki/user/h08960/sites/blog.fastechindo.com/www/wp-settings.php on line 494

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/sloki/user/h08960/sites/blog.fastechindo.com/www/wp-settings.php on line 530

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/sloki/user/h08960/sites/blog.fastechindo.com/www/wp-includes/cache.php on line 103

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/sloki/user/h08960/sites/blog.fastechindo.com/www/wp-includes/query.php on line 21

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/sloki/user/h08960/sites/blog.fastechindo.com/www/wp-includes/theme.php on line 623
Blog Mesin Kasir,Program Kasir, dan Barcode Indonesia » barcode

Posts tagged: barcode

Linear Image ungguli Laser Barcode

PUSATBARCODE.COM - Linear Image ungguli Laser Barcode

Jika anda sudah pernah memakai barcode scanner, pasti anda sudah mengetahui kebanyakan barcode scanner menggunakan teknologi barcode scanner atau menggunakan teknologi CCD.

TEKNOLOGI LASER
Teknologi Laser menggunakan dioda laser berkekuatan 650ns. Laser ini sebenarnya setara dengan kekuatan laser pada pointer untuk presentasi. Prinsipnya dengan menambahkan sebuah motor yang bergerak ke kiri dan kanan secara cepat, maka titik laser akan membentuk sebuah garis. Garis laser ini yang akan membaca barcode dan menterjemahkannya ke dalam sandi ASCII. Karena barcode laser menggunakan motor, maka barcode scanner jenis ini menjadi rentan rusak jika terjatuh. Walaupun beberapa produk sudah diuji drop test 1 - 1.5 M pada concentrate drop test, namun tetap saja rentan dibanding menggunakan teknologi CCD. Kelemahan barcode scanner Laser lainnya adalah tidak bisa untuk membaca barcode 2D, padahal barcode jenis ini mulai banyak digunakan oleh industri manufaktur besar, seperti Seagate Hard Disk, Sony, dan Matsuhita.

TEKNOLOGI CCD
Teknologi CCD menggunakan sinar infra red dan berbeda dengan sistem laser, menggunakan teknologi CCD seperti yang dipakai pada kamera. Kepekaan pembacaan CCD masih dibawah sistem Laser. Apalagi bagi orang yang bisa menggunakan sistem laser, dimana cara scanning barcode harus tegak lurus, maka harus mengubah kebiasaan - karena pada CCD justru pembacaannya menggunakan tidak perlu tegak lurus, namun menggunakan sudut. Pembacaan dengan scanner CCD juga mensyaratkan supaya sinar dan obyek barcode didekatkan atau ditempelkan pada jarak maksimal 2 cm. Jenis barcode scanner CCD jauh lebih kuat dan tahan banting.

Membandingkan kepekaan CCD dengan laser juga harus dilihat dari resolusi CCD. CCD model lama masih menggunakan 1000 pixel. Sedangkan CCD berkualitas sudah menggunakan teknologi 2000pixel. Teknologi 2MP memungkinkan scanning CCD bisa sampai pada jangkauan 20cm, disebut dengan kelas Mid Range CCD atau pembacaan sampai 30cm disebut dengan kelas long Range Scan Distance CCD.

TEKNOLOGI LINEAR IMAGER
Teknologi terbaru adalah dengan menggunakan linear imager red lead. Dengan mengusung kapasitas mulai 2000-2500pixel, teknologi ini menggabungkan kepekaan Laser, kekuatan CCD dan masih ditambah kemampuan untuk membaca barcode 2D. Beberapa vendor barcode scanner terkemuka mulai menggunakan teknologi ini, yaitu Datalogic (dahulu PSC), Metrologic, Symbol, HHP, Postronix, dan lain-lain. Bahkan salah satu pelopor DataLogic, sudah menghentikan produksi barcode jenis CCD dan Laser, serta mengganti dengan teknologi Linear Imager.

Jelas bahwa teknologi Linear Imager akan menggantikan produk-produk barcode scanner yang ada saat ini. Beberapa produk yang sudah lazim di Indonesia:

Datalogic PSC QS2500 (Generasi pertama Linear Imager, masih kurang peka)
Datalogic Heros PS-130 (Barcode scanner berkualitas dari DataLogic)
Datalogic PSC QS6500 (Pengganti PSC QS-6000 laser yang sangat fenomenal)
Metrologic MS1890 (Produk berkualitas dari Metrologic. Salah satu Linear Imager terbaik)
Postronix Proxima (Linear Imager pertama dengan 2.5MP, performa superior)
Honeywell IT3800g
Intermec SR30

Semoga informasi ini bermanfaat untuk anda.

www.fastechindo.com

Tips memilih Barcode Printer

PUSATBARCODE.COM - Tips memilih Barcode Printer

Sebelum mengetahui bagaimana memilih sebuah barcode printer, terlebih dahulu ajukan pertanyaan ini : Untuk apa saya membutuhkan barcode printer?

Jika anda bergerak di bidang industri manufaktur maupun home industry, maka pilihan printer barcode hampir pasti sudah merupakan suatu kebutuhan. Apalagi jika perusahaan anda hendak melakukan supply barang ke supermarket besar atau hendak bersaing dengan barang-barang branded.

Jika anda bergerak di bidang penjualan/retail untuk fashion store, penggunaan barcode printer juga sangat dianjurkan. Anda bisa membeli sepotong pakaian wanita murah di Pasar Pagi seharga Rp. 15.000,- tambahkan gantungan barcode pada barang tersebut, dan barang ini menjadi layak untuk dijual seharga Rp. 40.000 di mal-mal. Itu adalah gambaran kebutuhan barcode bagi para pelaku bisnis fashion.

Atau jika anda bergerak di bidang usaha supermarket. Kebanyakan barang yang ada di sebuah minimarket atau supermarket adalah barang yang sudah memiliki barcode. Tentunya ini mempermudah para pelaku usaha minimarket. Namun sayangnya di Indonesia masih terdapat banyak barang, terutama buatan produsen dari produksi lokal atau home industry.

Untuk barang yang belum ada barcode ini umumnya para pelaku usaha menggantikan dengan kode manual, misalnya 5 digit kode angka. Contoh : Keripik Keladi ABC diberi kode 11001. Hal ini sebenarnya sudah cukup memadai. Namun pada saat tertentu, misalnya menjelang lebaran - saat terjadi antrian panjang dan kasir masih harus mengetik kode-kode tersebut, hal ini akan menjadi masalah. Karena pada saat-saat tersebut biasanya jumlah pengunjung dapat meningkat 3 atau 4 kali lipat, dan barang-barang produksi lokal home industri juga cukup diminati.

Nah, jika anda menginginkan semua barang yang belum mempunyai barcode dapat menggunakan sistem barcode, maka sudah saatnya membeli sebuah barcode printer. Untuk memilih sebuah barcode printer, tidaklah terlalu sulit. Merek barcode printer yang beredar di pasaran Indonesia saat ini sudah cukup banyak. Kemampuan setiap barcode printer antara merek satu dengan merek lainnya, kurang lebih sama pada kelas yang sejenis. Misalnya pada kelas desktop barcode printer. Jadi pertimbangannya hanya pada harga dan reliabilitas saja.

Berikut ini adalah merek-merek barcode printer desktop yang sering digunakan untuk supermarket dan toko fashion:

1. TEC Desktop barcode Printer
Dengan kisaran harga yang paling tinggi, yaitu sekitar USD 1100 printer ini menawarkan fitur-fitur yang lengkap. Barcode printer TEC sudah lebih dari 10 tahun berada di pasaran Indonesia dan mempunyai brand yang sudah melekat. Kebanyakan pembeli printer ini adalah pelanggan fanatik TEC.

Distributor : Kahar Duta Sarana, Jakarta & Surabaya.

2. GODEX EZ-1000
Godex EZ-1000 adalah barcode printer buatan Taiwan dengan harga sekitar USD 450. Kemampuannya sudah cukup memadai untuk penggunaan toko atau industri kecil.

Distributor : Fastechindo, Surabaya.

3. Postek G-2108
Barcode printer buatan dari China ini adalah salah satu pemain baru. Namun fiturnya tidak kalah dengan Godex EZ-1000. Bahkan disediakan SDK untuk programmer yang ingin melakukan programming sendiri. Dengan harga hanya pada kisaran USD 400. ini adalah printer barcode termurah.

Distributor : PT. Supra MediaTama, Surabaya.

4. Zebra TLP2844-Z
Barcode printer Zebra adalah brand yang sudah sangat terkenal. Dengan kisaran harga USD 575, barcode printer ini menjadi pilihan banyak orang. Walaupun printer ini mempunyai kualitas bagus, namun dari riset di pasaran, pengguna supermarket dan industri kecil jarang yang menggunakannya.

Distributor : Unicode Pratama, Jakarta

5. TSC TTP 245-X
Hanya dengan harga USD 425, printer TSC merupakan pilihan terbaik yang dapat anda ambil. Printer ini dibuat oleh salah satu perusahaan pelopor Data Capturing dunia dari Taiwan : Taiwan SemiConductor. Untuk kapasitas fiturnya bahkan melebihi seri TEC B-452.

Distributor : Fastechindo, Surabaya.

Semoga informasi ini berguna untuk anda.

www.fastechindo.com

Definisi Barcode Scanner

PUSATBARCODE.COM - Definisi Barcode Scanner

Barcode scanner adalah alat yang digunakan untuk membaca kode-kode berbentuk garis-garis vertikal (disebut dengan BARCODE) yang terdapat pada kebanyakan produk-produk consumer good. Penggunaan barcode scanner ini mempunyai dua keuntungan tambahan. Yang pertama akan memperkecil kesalahan input yang disebabkan kesalahan operator komputer atau kasir. Yang kedua, penggunaan barcode scanner mempercepat proses entry data, sehingga mengurangi jumlah antrian yang panjang

Tanpa barcode, dahulu kasir memasukkan penjualan di komputer dengan bantuan nama barang atau kode barang. Nama barang memang dirasa lebih memperkecil kemungkinan kesalahan. Namun kerugiannya, waktu entry akan sangat lama karena kasir akan menngetikkan lebih banyak karakter.

Kemudian digunakan sistem pengkodean, dimana setiap barang dikodekan dalam sejumlah digit angka. Misalnya produk A mempunyai kode 00001, produk B mempunyai kode 00002, dan seterusnya. Hal ini mempercepat waktu pelayanan dibandingkan menggunakan nama barang. Kerugiannya adalah kesalahan 1 digit saja, akan menyebabkan kesalahan data. Sebagai contoh, kasir melakukan penjualan barang A. Saat memasukkan di komputer, seharusnya kasir memasukkan kode 00001. Namun karena suatu kelalaian yang dia masukkan adalah 00002. Bisa dibayangkan terjadi kesalahan yang menyebabkan :

1. Pembeli dirugikan jika ternyata harga produk A sebenarnya lebih murah daripada produk B. Atau bisa-bisa perusahaan yang dirugikan jika terjadi sebaliknya.
2. Stok menjadi salah. Secara komputer, baik produk A maupun produk B akan mengalami selisih antara stok di komputer dan stok fisik.

Akhirnya ditemukan barcode. Barcode lebih efektif digunakan, karena kebanyakan produsen telah meletakkan kode barcode dalam produk yang mereka produksi. Kode barcode sebenarnya juga adalah sederetan angka, namun direpresentasikan dalam bentuk garis-garis melintang. (Jika kode barcode masih berupa angka, berarti setiap kali terjadi penjualan, kasir tetap harus memasukkan kombinasi angka-angka tersebut). Namun karena kode angka barcode telah direpresentasikan dalam bentuk garis-garis hitam, maka dapat diciptakan sebuah alat yang mampu menterjemahkan kode-kode berbentuk garis tadi menjadi kode berbentuk angka. Jika anda tertarik mempelajari, cara kerja bagaimana sebuah alat mampu menterjemahkan dari kode garis menjadi kode angka, kami akan memposting artikel mengenai hal itu pada kesempatan berikutnya.

Nomor barcode pun secara teori tidak mungkin kembar. Hal ini karena sebelum produsen/pabrik dapat meletakkan sebuah barcode pada produknya, dia harus mendaftarkan kode angka dan barcode ke sebuah lembaga internasional. di Indonesia untuk mendaftarkan barcode wajib melalui deperindag, kemudian deperindag mendaftarkannya kepada lembaga internasional. Kode ini bersifat unik di seluruh dunia, karena juga mengandung kode negara. Misalnya untuk jenis barcode EAN, Indonesia mempunyai kode awalan 899. Jadi dapat dipastikan jika anda melihat barang dengan kode barcode awal adalah 899, maka produk tersebut diproduksi di Indonesia.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi yang membutuhkannya.

Cara Kerja Barcode

PUSATBARCODE.COM - Cara Kerja Barcode

Barcode merupakan instrumen yang bekerja berdasarkan asas kerja digital. Pada konsep digital, hanya ada 2 sinyal data yang dikenal dan bersifat boolean, yaitu 0 atau 1. Ada arus listrik atau tidak ada listrik (dengan besaran / tresshold tegangan tertentu, misalnya 5 volt dan 0 volt).

Barcode menerapkannya pada batang-batang baris yang terdiri dari warna hitam dan putih. Warna hitam mewakili bilangan 0 dan warna putih mewakili bilangan 1. Mengapa demikian? Karena warna hitam akan menyerap cahaya yang dipancarkan oleh alat pembaca barcode, sedangkan warna putih akan memantulkan balik cahaya tersebut.

Selanjutnya, masing-masing batang pada barcode memiliki ketebalan yang berbeda. Ketebalan inilah yang akan diterjemahkan pada suatu nilai.

Demikian, karena ketebalan batang barcode menentukan waktu lintasan bagi titik sinar pembaca yang dipancarkan oleh alat pembaca. Dan sebab itu, batang-batang barcode harus dibuat demikian sehingga memiliki kontras yang tinggi terhadap bagian celah antara (yang menentukan cahaya). Sisi-sisi batang barcode harus tegas dan lurus, serta tidak ada lubang atau noda titik ditengah permukaannya.

Sementara itu, ukuran titik sinar pembaca juga tidak boleh melebihi celah antara batang barcode. Saat ini, ukuran titik sinar yang umum digunakan adalah 4 kali titik yang dihasilkan printer pada resolusi 300dpi Saat ini terdapat beberapa jenis instrumen pembaca barcode, yaitu: pena, laser, serta kamera. Pembaca berbentuk pena memiliki pemancar cahaya dan dioda foto yang diletakkan bersebelahan pada ujung pena. Pena disentuhkan dan digerakkan melintasi deretan batang barcode. Dioda foto akan menerima intensitas cahaya yang dipantulkan dan mengubahnya menjadi sinyal listrik, lalu diterjemahkan dengan sistem yang mirip dengan morse. Pembaca dengan pemancar sinar laser tidak perlu digesekkan pada permukaan barcode, tapi dapat dilakukan dari jarak yang relatif lebih jauh. Selain itu, pembaca jenis ini memiliki cermin-cermin pemantul sehingga sudut pembacaan lebih fleksible.

Pembaca barcode dengan sistem kamera menggunaka sensor CCD (charge coupled device) untuk merekam foto barcode, baru kemudian membaca dan menterjemahkannya kedalam sinyal elektronik digital. Bagaimana koneksi alat pembaca barcode dengan komputer?

Ada 2 macam koneksi, yaitu sistem keyboard wedge dan sistem output RS232. Sistem ini menterjemahkan hasil pembacaan barcode sebagai masukan (input) dari keyboard. Biasanya menggunakan port serial pada komputer. Kita memerlukan software pengantara, umumnya disebut software wedge yang akan mengalamatkan bacaan dari barcode ke software pengolah data barcode tersebut.

Dikutip dari Pvidia

Barcode dan Perkembangannya

PUSATBARCODE.COM - Barcode dan Perkembangannya

Sistem ”Barcode” : Garis Hitam Ajaib yang Mempermudah Belanja

KOMPUTERISASI sudah merajalela di segala bidang, termasuk bisnis retail. Kini kasir-kasir di sebagian besar pusat perbelanjaan tidak perlu repot mengetikkan harga dan nama barang untuk menjumlahkan harga. Cukup dengan men-scan permukaan barcode pada barang yang dibeli, harga dan nama barang pun masuk ke dalam memori komputer.

Kita pasti sangat familiar dengan label kotak putih bergaris-garis hitam yang tertera di hampir semua kemasan produk. Itulah yang disebut dengan barcode, sebuah sistem revolusioner di bidang bisnis retail.
Ditemukan pertama kali di Inggris sekitar 25 tahun lalu, barcode membuat negara ini menjadi terkenal dengan pusat perbelanjaan di seluruh dunia. Kita tentu tidak asing lagi dengan nama seperti Walmart atau Keymarkets.
Hingga hari ini, nyaris semua produk mulai dari makanan, pakaian, hingga kebutuhan sehari-hari dilengkapi dengan barcode begitu masuk pusat perbelanjaan besar. Walter Satterthwaite, konsultan dari Masterfood mengatakan bahwa keberadaan barcode membantu pu–sat perbelanjaan di seluruh dunia.
”Pada akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an, toko makanan di Inggris hanya menempelkan label harga pada produk dagangan. Kesulitan muncul jika terjadi inflasi, karena karyawan toko harus sering mengganti harga seluruh produk,” ujar Saterthwaite kepada BBC News.
Karena problem itulah maka toko-toko tidak dapat buka di hari Minggu sebab harus meluangkan waktu mengganti label harga sesering mungkin. Namun kini masalah seperti itu tidak perlu dipusingkan lagi. Cukup dengan melakukan scanning pada barcode, maka semua data yang berhubungan dengan produk yang terjual masuk ke dalam database komputer. Mulai dari harga, jumlah barang keseluruhan, nomor kode penyuplai sampai tanggal kedatangan dan masa kadaluarsa barang masuk dalam database tersebut. Di Inggris, saat ini, ada sekitar 35.000 toko yang menggunakan sistem barcode.

Standarisasi
Barcode kini telah menjadi bahasa global dalam standarisasi bisnis, sehingga tidak ada masalah apabila dua perusahaan memasang produk sama dengan harga berbeda. Susunan barcode terdiri atas angka awalan (prefiks) yang mengindentifikasi nama perusahaan dan angka akhir (sufiks) yang bervariasi panjangnya tergantung jenis produk.
Mayoritas penggunaan barcode di seluruh dunia mengikuti standar yang ditetapkan European Article Number Association (EANA), kecuali di Amerika Serikat (AS) dan Kanada. Di kedua negara tersebut mereka memiliki standar sendiri yang ditemukan pada tahun 1973 oleh George J. Laurer, yaitu Universal Product Code (UPC).
Pemakaian sistem ini semakin meluas dari waktu ke waktu. Bahkan perusahaan elektronik tidak ketinggalan memakainya untuk mempermudah penjelasan materi kasar dan produk yang sudah terjual.
Di masa mendatang, barcode akan dilengkapi dengan label identitas berfrekuensi radio sehingga bisa di-scan lebih cepat dan mempunyai informasi yang selalu di-update. Barcode jenis ini dikenal dengan sebutan RFID (Radio Frequency ID). RFID masih cukup mahal untuk dipakai secara retail. Baru beberapa perusahaan manufaktur dan distributor yang memanfaatkannya.

Perkembangan di masa mendatang RFID akan lebih efisien dan seiring dengan semakin banyaknya pemakai, harga RFID pun semakin lama akan semakin murah dan pada saatnya akan menggantikan sistem barcode secara keseluruhan.

Yang jelas, saat ini sistem barcode telah membuat aktivitas belanja lebih simpel dan cepat. Pembeli tinggal mengambil semua barang yang diinginkan, membawanya ke kasir, melewati mesin scanner dan membayar.

Disadur dari : Sinar Harapan

Definisi dan Sejarah Barcode

PUSATBARCODE.COM - Definisi dan Sejarah Barcode

Barcode adalah susunan garis cetak vertikal hitam putih dengan lebar berbeda untuk menyimpan data-data spesifik seperti kode produksi, nomor identitas, dll sehingga sistem komputer dapat mengidentifikasi dengan mudah, informasi yang dikodekan dalam barcode.

Dewasa ini barcode dapat dijumpai dimana-mana. Coba ambilah sebuah produk di supermarket terdekat, dan periksa apakah terdapat banyak garis hitam vertikal warna hitam yang saling berdekatan. Itulah yang disebut barcode. Di dalam barcode tersebut terdapat informasi (umumnya berupa angka). Angka tersebut biasanya juga tercantum di bawah barcode tersebut.

Mungkin anda bertanya, kalau sudah ada kode angka, mengapa masih diperlukan barcode? Jawabnya adalah bagi alat (atau komputer) lebih mudah membaca sesuatu yang bersifat digital daripada angka yang bersifat analog. Kode barcode dengan warna contrast (biasanya hitam di atas putih) sangat mudah dikenali oleh sensor optik CCD atau laser yang ada pada alat pemindah, untuk kemudian diterjemahkan oleh komputer menjadi angka.

Ada beberapa standarisasi jenis barcode. Berikut ini adalah jenis barcode yang sering digunakan:

Code 39, sebagai simbolik yang paling populer di dunia barcode non-retail, dengan variabel digit yang panjang. Namun saat ini code 39 makin sedikit dipergunakan dan digantikan dengan Code 128 yang lebih mudah dibaca oleh pemindai.

Universal Product Code (UPC)-A, terdiri dari 12 digit, yaitu 11 digit data, 1 check digit : untuk kebutuhan industri retail.

UPC-E, terdiri dari 7 digit, yaitu 6 digit data, 1 check digit : untuk bisnis retail skala kecil.

European Articles Numbering (EAN)-8, terdiri dari 8 digit, yaitu 2 digit kode negara, 5 digit data, 1 check digit.

EAN-13 atau UPC-A versi Eropa, terdiri dari 13 digit, yaitu 12 digit data, 1 check digit

TIpe barcode yang banyak di Indonesia adalah EAN 13, yaitu kode barcode dengan 13 digit. Dimana 3 kode awalnya merupakan kode negara Indonesia (899). Kemudian empat angka berikutnya menunjukkan kode perusahaan. Selanjutnya lima angka secara berturut-turut merupakan kode produk dan angka terakhir berupa validasi atau cek digit.

Sejarah Barcode
Pada tahun 1932, Wallace Flint membuat sistem pemeriksaan barang di perusahaan retail. Awalnya, teknologi barcode dikendalikan oleh perusahaan retail, lalu diikuti oleh perusahaan industry. Lalu pada tahun 1948, pemilik toko makanan lokal meminta Drexel Institute of Technology di Philadelphia untuk membuat sistem pembacaan informasi produk selama checkout secara otomatis.

Kemudian Bernard Silver dan Norman Joseph Woodland, lulusan Drexel, bergabung untuk mencari solusi. Woodland mengusulkan tinta yang sensitif terhadap sinar ultraviolet. Prototype ditolak karena tidak stabil dan mahal. Tangal 20 Oktober 1949 Woodland dan Silver berhasil membuat prototipe yang lebih baik.

Akhirnya pada tanggal 7 Oktober 1952, mereka mendapat hak paten dari hasil penelitian mereka. 1966: Pertama kalinya barcode dipakai secara komersial adalah pada tahun 1970 ketika Logicon Inc. membuat Universal Grocery Products Identification Standard (UGPIC).

Perusahaan pertama yang memproduksi perlengkapan barcode untuk perdagangan retail adalah Monach Marking. Pemakaian di dunia industri pertama kali oleh Plessey Telecommunications. Pada tahun 1972, Toko Kroger di Cincinnati mulai menggunakan bull’s-eye code. Selain itu, sebuah komite dibentuk dalam grocery industry untuk memilih kode standar yang akan digunakan di industry.

Pada tanggal 3 April 1973: Komite memilih simbol UPC (Uniform Product Code) sebagai standar industry.

Cara Membaca Barcode
1. Barcode terdiri dari garis hitam dam putih. Ruang putih di antara garis garis hitam adalah bagian dari kode.

2. Ada perbedaan ketebalan garis. Garis paling tipis = “1”, yang sedang = “2”, yang lebih tebal = “3”, dan yang paling tebal = “4”.

3. Setiap digit angka terbentuk dari urutan empat angka. 0 = 3211, 1 = 2221, 2 = 2122, 3 = 1411, 4 = 1132, 5 = 1231, 6 = 1114, 7 = 1312, 8 = 1213, 9 = 3112

Standar barcode retail di Eropa dan seluruh dunia kecuali Amerika dan Kanada adalah EAN (European Article Number) – 13. EAN-13 standar terdiri 13 digit, dengan pembagian digitnya :
1. Kode negara atau kode sistem: 3 digit pertama barcode menunjukkan negara di mana manufacturer terdaftar

2. Manufacturer Code: Ini adalah 5 digit kode yang diberikan pada manufacturer dari wewenang penomoran EAN

3. Product Code: 5 digit setelah manufacturer code. Nomor ini diberikan manufacturer untuk merepresentasikan suatu produk yang spesifik

4. Check Digit atau Checksum: Digit terakhir dari barcode, digunakan untuk verifikasi bahwa barcode telah dipindai dengan benar

Sekian penjelasan singkat tentang barcode…Semoga dapat bermanfaat bagi
anda yang membacanya..

WordPress Themes